Corona Buat Merana para Pelaku Usaha Kawasan Cendana

BANJARMASINklikkalsel.com – Sejumlah usaha di Jalan Cendana Banjarmasin Utara mendadak sepi, tidak seperti biasanya.
Pantauan reporter klikkalsel.com, Selasa Siang (25/8/2020) yang terik, kawasan ini tampak sunyi, hanya beberapa pengendara yang melintas, terlihat beberapa warung makan yang buka, namun sepi dari pembeli, berbeda dari kondisi sebelumnya di jam makan siang warung sekitar kawasan Cendana uang ramai akan pembeli, sebelum Virus Corona (Covid-19) melanda di Banua.
Mayoritas pembeli di sini adalah mahasiswa-mahasiswi dan pekerja bergaji pas pasan.
Maka, jangan heran apabila harga yang ditawarkan warung di kawasan ini terbilang ramah kanton
Seperti Farida ibu dari dua anak ini, mengaku sudah 10 tahun menggantungkan hidupnya ikut berdagang makanan di kawasan Jalan Cendana.
Kondisi saat ini yang ia rasakan amatlah pahit, berbeda dari bulan-bulan lalu, warung yang ia kelola mulanya ramai kini mengalami penurunan.
“Sunyi, tidak seperti dulu, mahasiswa banyak pulang kampung,” ucapnya kepada klikkalsel.com Selasa (25/8/2020).
Pasalnya, selama masa pandemi Covid-19 banyak kampus yang menghentikan sistem pembelajaran tatap muka dan beralih fungsi menggunakan sistem daring, guna mengurai penyebaran mata rantai virus corona.
Hal inilah yang bisa dibilang menyebabkan penurunan pemasukan bagi penjual makanan di kawasan Cendana, bahkan sebagian penjual banyak yang balik kandang/pulang kampung karena tidak sanggup bertahan.
Karena harga bahan pokok tetap tinggi. Banting harga tidak mungkin. Maka, bertahan dan mengurangi karyawan adalah strategi satu-satunya.
Tidak hanya pedagang makanan yang mendapatkan dampak merosotnya perekonomian, para Jasa rental dan pengetikan pun kena imbasnya.
Tubagus Pramadi contohnya, pria berusia 50 tahun ini sudah merantau dari Jawa Timur ke Banjarmasin sejak 2006 lalu, juga merasakan dampak yang sama,
Ia mengelola sebuah jasa pengetikan dan rental di salah satu bagunan di jalan Cendana mengaku di masa pandemi ini sepi orderan.
“Satu dua hari bisa tidak ada yang datang,” katanya
Selanjutnya, ia menceritakan kalau dulu dari pagi, siang, sore hingga malam selalu ada saja yang menggunakan jasanya, namun di masa pandemi sangat jarang sekali bahkan bisa saja tidak ada yang datang.
Hal ini mengakibatkan kemerosotan drastis baginya, yang mana dulu dalam satu minggu. Ia bisa mendapatkan Rp500 sampai Rp800 ribu, kini di keadaan saat ini Rp200 ribu untuk seminggu saja susah.
“satu minggu cari Rp200 ribu susah, kaya hidup enggan mati tak mau,” pungkasnya. (airlangga)
Editor : Akhmad
Sumber : https://klikkalsel.com/