Republiktimes.com – Seperti biasa, Mister Hashim yang rajin berbatik biru yang masih njawani ini bikin gempar publik Indonesia di 15 januari. Sekarang bangsa ini punya dua peristiwa malari, pertama malari bung hariman yang ngelawan industrialisasi jepang, kedua malari Hashim yang spill the tea tentang siapa yang mimpin Badan Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat atau BP3R untuk percepatan pembangunan rumah di Indonesia, dia bilang namanya Fahri Hamzah. Para wartawan senang, yes dapet berita menegangkan. Setelah berabad lamanya pers dipenuhi dengan isu perselingkuhan influencer. Pers room senayan memandang iri, sial, di sini sepi sekali kata mereka.
Begitu pula audiens yang kerjaannya menduga – duga dengan H0 sampai H10, membaca dan menganalisa, sampai membuka – buka jurnal demi mendapatkan kerangka teori 9 naga versus 9 haji yang diperankan ara dan fahri. dari informasi labu siam, diolah menjadi lodeh, lengkap dengan sambal petis dan kerupuk udang Tanggulangin. Dengan penuh keyakinan bahwa BP3R adalah adalah sikap mumet Hashim karena Ara tidak kunjung memahami persoalan, miss leading terhadap persoalan social housing, hingga terlalu mengikuti maunya 9 naga. Lalu dia mau Fahri bertindak cepat di BP3R. Ya namanya juga analisa masyarakat bebas, ga cuma IPK aja yang terjun bebas.
Padahal mah, BP3R bukan barang baru, sebelumnya ada yang namanya Badan Percepatan Penyelenggaraan Perumahan disingkat BP3 dengan dasar hukum pendirian Perpres Nomor 9 Tahun 2021. Badan tersebut terdiri dari dewan pembina berjumlah empat orang, yaitu menteri PUPR sebagai ketua merangkap anggota, menteri keuangan, menteri ATR BPN dan mendagri. Terus ada juga badan pelaksananya, ada kepala badan dan paling banyak empat direktur, plus ada pula dewan pengawas sebanyak lima. Sungguh luar biasa bukan?
Ada yang nanya kan tuh lagi, lah buat apa dong ada Kemenpkp? sabar dulu pemirsa karena sabar dapat pahala kencana, yang namanya social housing tu ga segampil itu kocak. Ekosistem social housing kan mulai dari tanah kan tuh, terus maju lagi ke perizinan, lari lagi ke infrastruktur, terus ke konstruksinya abis itu baru dah tuh ke pembiayaan. Lah dari soal tanah aja bukan urusan kemenpkp. ke pembiayaan juga kan ceritanya mau pake danantara, ya emang kagak bisa satu kementerian yang ngerjain sih bambang. Lagian kocak banget dah story2 faksi ara vs faksi fahri, kek antum ga pernah bertengkar sama pasangan aja. Selama belum putus ya kan masih bobo seranjang. Namanya juga rumah tangga, ada manisnya, pahit getirnya tapi kan bersatu kita teguh bercerai kita cari someone new.
Tau ga sih antum, ketimpangan kepemilikan rumah di Indonesia yang ditandai oleh angka backlog itu nyampe 34,95 juta menurut data BPS tahun 2024. Backlognya dibagi bagi tuh, backlog kepemilikan sebanyak 15.322.660, backlog kelayakanhunian sebanyak 19.268.783 serta double backlog sebanyak 6.504.183. Kacau kan, banyak banget. ya makanya jangan ribet banget faksi – faksian lah ya. Capek banget hayatinya zainudin. Udah paling bener kalau BP3R rilis kita bantu bareng – bareng, kali ada yang mau masok apa kek gitu. Kan hidup jadinya daerah – daerah. Setuju?
Penulis: Zahra (Student MPKP Universitas Indonesia yang tiba – tiba ambil topik social housing buat penelitian akhir)



